Tumpek Wayang

Tumpek Wayang merupakan cerminan dimana dunia yang diliputi dengan kegelapan, manusia oleh kebodohan, keangkuhan, keangkara murkaan, oleh sebab itu Siwa pun mengutus Sangyang Samirana turun ke dunia untuk memberikan kekuatan kepada manusia yang nantinya sebagai mediator di dalam menjalankan aktifitasnya.

Mitologi dan Sejarah

Hari suci perayaan Tumpek Wayang erat kaitannya dengan cerita Rare Kumara dan Bhatara Kala. Secara mitologi, dikutip dari lontar dan literatur kuno, Wuku Wayang merupakan hari lahirnya Kumara dan Kala yang merupakan putra dari Bhatara Siwa dan Bhatara Guru.

Kala tak suka memiliki hari lahir yang sama dengan adiknya, yaitu Kumara, maka Kala meminta izin kepada Bhatara Siwa untuk memakan Kumara. Namun permintaan Kala tidak dihiraukan oleh Bhatara Siwa.

Beberapa tahun kemudian Kala ingin memakan Kumara, tetapi Bhatara Siwa menitahkan agar Kumara pergi ke Kerajaan Kertanegara untuk berlindung. Malam harinya, Kumara sampai di pertunjukan Wayang dan meminta perlindungan kepada Sang Dalang yang berada di sana. Sang Dalang kemudian menyuruh Kumara untuk bersembunyi di sela sela gamelan gender.

Singkat cerita Kala datang dan terus mengejar Kumara. Karena rasa laparnya tak tertahankan, Kala memakan semua sesajen untuk pergelaran Wayang itu. Sang Dalang pun menegur Kala agar berhenti mengejar Kumara, karena sesajen yang dimakan oleh Kala tadi diibaratkan sebagai tebusan. Merasa tak berdaya, Kala akhirnya mengurungkan niatnya dan Kumara selamat dari ancaman Kala.

Kesenian Hingga sebagai Bentuk Keseimbangan dan Harmonisasi

Tumpek Wayang sering diidentikan dengan pelaksaaan ruwatan sapuh leger. Sapuh adalah bersih sedangkan leger dalam Bahasa jawa bersinonim dengan leget yang berarti tercemar atau kotor. Jadi sapuh leger dapat diartikan pembersihan atau penyucian dari keadaan kotor atau tercemar.

Mitologi ruwatan sapuh leger, terdapat konsep keseimbangan atau harmonisasi yang berusaha dijaga oleh masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu. Sementara jika dikaitkan dengan pementasan wayang, dalang adalah penjaga keseimbangan, dalang adalah pemain semua peran, berperan baik dan juga berperan jahat.

Masyarakat Hindu berusaha selalu menjaga hubungan baik dengan semua mahluk, berusaha menjaga ekosistem supaya tetap berjalan dengan alami. Dan ada keyakinan segala yang tercipta di dunia ini mempunyai peran dan fungsinya masing-masing. Salah satu dirusak akan mengganggu dan melumpuhkan yang lain.

Selama ini, manusia Hindu dalam praktik-praktik kegiatan sosio-religiusnya selalu mengedepankan ajaran-ajaran Tri Hita Karana. Yakni seimbang menjaga keharmonisan dengan Tuhan, dengan alam lingkungan maupun dengan sesama, mengaplikasikan panca yadnya sehingga akan tercipta jagat kertih atau dunia yang tenteram dan sejahtera.

Ditulis oleh Putu Asrinidevy,M.I.Kom

Sumber:

https://www.antaranews.com/berita/3511695/mengenal-hari-tumpek-wayang-dan-peruwatan-sapuh-leger

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.