Jakarta – Kekayaan kosmologi Hindu, konsep kiamat, yang dikenal sebagai Pralaya, adalah elemen mendalam dan rumit yang terkait dengan sifat siklus alam semesta. Berbeda dengan perspektif linier yang dipahami dalam tradisi Barat, agama Hindu memandang waktu sebagai siklus kosmisyang abadi, yang mencakup penciptaan (Srishti, utpati), pemeliharaan (Sthiti, stiti), dan penghancuran (Pralaya, pralina). Siklus ini digambarkan dengan indah dalam Veda, pustaka suci Hindu, dengan satuan waktu yang disebut Kalpha (periode 4,32 miliar tahun) Pembagian kalpa dalam matsya purana 290.3-12 yang dijelaskan tentang 30 kalpa terdiri dari: (1) Śveta (2) Nīlalohita (3) Vāmadeva (4) Rathantara (5) Raurava (6) Deva (7) Bṛhat (8) Kandarpa (9) Sadya (10) Iśāna (11) Tamah (12) Sārasvata (13) Udāna (14) Gāruda (15) Kaurma (16) Nārasiṁha (17) Samāna (18) Āgneya (19) Soma (20) Mānasa (21) Tatpurusha (22) Vaikuṇṭha (23) Lakṣmī (24) Sāvitrī (25) Ghora (26) Varāha (27) Vairaja (28) Gaurīu (29) Māheśvara dan (30) Pitṛ atau Kuhu
Kosmologi Hindu membagi waktu menjadi empat zaman besar yang disebut Yuga, yaitu Satyayuga, Tretayuga, Dvaparayuga, dan Kaliyuga. Yuga ini mewakili penurunan bertahap dalam kebenaran dan nilai-nilai moral. Bhagavata Purana 2.10.46 dijelaskan tentang mahakalpa, vikalpa dan kalpa dalam pembagiannya satu Kalpha (zaman) terdiri dari seribu putaran empat zaman – Satya, Treta, Dvapara, dan Kali yuga ini.
Urat kata Pralaya, berasal dari kata Sansekerta “laya” (penghancuran), menandakan akhir dari kosmos atau alam semesta yang kita kenal. Ini adalah peristiwa di mana semua bentuk kehidupan dan materi larut ke dalam perairan, untuk diciptakan kembali pada siklus berikutnya.Konsep ini diilustrasikan dengan jelas dalam Rgveda dan Atharvaveda. Regveda 10.129.3dinyatakan bahwa: “Saat sinar matahari menghilang, dan kegelapan menyelimuti segalanya,Dunia kembali ke perairan purba, tempat semuanya dimulai.” Dan Atharvaveda 11.8.10dinyatakan bahwa “Dari air muncul kehidupan dan kembali ke air, Inilah siklus abadi, tarian penciptaan dan peleburan.”
Pemahaman tentang pralaya tertuang dalam Bhagavata Purana Skanda 12 Chapter 4, 1-43 dijelaskan tentang pralaya yang dipertegas dalam Bhagavadgita tentang Jenis-jenis penghancuran yang disebut Pralaya dalam Veda adalah:
1. Nitya pralaya
Mengacu pada penghancuran terus-menerus, fenomena yang menggambarkan entropi harian pikiran dan tubuh semua makhluk hidup dan yang tak hidup. Contohnya, penuaan kulit, pembusukan daun, dan kematian. “Wahai putra Kunti, munculnya kebahagiaan dan kesedihan yang bersifat sementara, dan lenyapnya pada waktunya, bagaikan munculnya dan lenyapnya musim dingin dan musim panas. Hal-hal tersebut muncul dari persepsi indra, dan seseorang harus belajar untuk menoleransinya tanpa menjadi terganggu.” (Bhagavad Gita 2.14)
2. Prākṛtika pralaya
Pralaya atau pemusnahan yang terjadi karena faktor alamiah seperti banjir besar, gempa bumi besar, dan lain-lain. Prakritika Pralaya dapat terjadi dalam skala yang berbeda-beda, dari kecil hingga besar, dari lokal hingga global. “Dengan memanfaatkan alam material-Ku, berulang kali Aku menciptakan makhluk-makhluk yang sangat banyak ini, yang tak berdaya tunduk pada kendali alam material.” (Bhagavad Gita 9.8)
Pralaya ini terjadi pada akhir satu hari dalam kehidupan Brahma, disebut sebagai malam dalam kehidupan dewa (Maha Yuga) yang berlangsung selama 4,32 miliar tahun. Brahma adalah Tuhan sebagai Pencipta. Pada saat ini, seluruh alam semesta hancur dan segala sesuatu kembali ke Brahman, entitas kosmik yang tidak terwujud. Pralaya ini juga disebut naimittika, yang berarti ‘sesekali’. Selama periode ini, Tuhan menarik alam semesta di dalam diri-Nya. “Ketika satu hari Brahma berakhir, semua manifestasi melebur ke dalam substansi tanpa wujud; dan pada awal hari baru, penciptaan yang sama muncul lagi dan lagi.” (Bhagavad Gita 8.19)
4. Ātyantika pralaya.
Bentuk pralaya ini disebut sebagai pembubaran mutlak, mengacu pada pembebasan jiwa individu dari siklus kelahiran-kematian-terlahir kembali (samsara), ketika jiwa seseorang manunggal (kembali) dengan Jiwa Semesta, Tuhan. Ini adalah bentuk pralaya ketika seseorang menghancurkan maya (ilusi) dan menaklukkan avidya (ketidaktahuan) dengan kesadaran bahwa tidak ada perbedaan antara Atman (jiwa) dan Brahman (Tuhan), yang disebut moksa. Ketika seseorang akhirnya menyadari kebenaran ini, kesadaran dirinya melebur dan menyatu dengan Brahman, dan seseorang mencapai mukti (pembebasan). Dalam bahasa Jawa disebut manunggaling Kawulo-Gusti. “Seseorang yang pikirannya terlatih melalui disiplin yoga, wahai Partha, meditasi secara teratur dan pikirannya terus-menerus terpusat pada Aku, tanpa menyimpang, maka ia pasti akan mencapai Aku.” (Bhagavad gita 8.8).
Konsep Pralaya menghadirkan pemahaman yang unik dan mendalam tentang siklus kosmik, dimana penciptaan dan kehancuran adalah dua sisi dari mata uang yang sama, yang terus bergerak. Pralaya menggambarkan pandangan Hindu tentang alam semesta sebagai entitas yang terus-menerus bergerak dalam siklus penciptaan, pemeliharaan, dan kehancuran. Pandangan ini menekankan bahwa tidak ada yang abadi kecuali Brahman, yang merupakan realitas tertinggi dan sumber dari segala sesuatu. Siklus penciptaan dan pemusnahan dianggap sebagai bagian dari alam semesta yang terus-menerus bergerak dalam siklus yang tidak berujung. Siklus abadi ini, yang dijelaskan dalam sloka-sloka suci Veda, mengundang untuk kita melakukan refleksi tentang sifat kehidupan yang sementara dan perjalanan jiwa yang abadi. Konsep ini berbeda dengan pandangan kiamat dalam beberapa tradisi lain yang mungkin menekankan pada peristiwa tunggal atau kiamat global.
Sumber:
1. https://www.wisdomlib.org/definition/prakritapralaya
2. https://en.wikipedia.org/wiki/Pralaya
3. http://puneresearch.com/media/data/issues/5c0f6fde1c6db.pdf
4. Science of the Sacred: Ancient Perspective for the Modern Science, dalam https://gosai.com/sites/gosai/files/books/science-of-sacred-2010.pdf
5. http://www.ijcrt.org/papers/IJCRT2011209.pdf
6. https://www.narayanasmrti.com/2009/12/peleburan-alam-material/
Ditulis oleh: I Made Sugi Ardana dan KS Arsana
Editor: Putu Asrinidevy dan Untung Suhardi
